Followers

Tom Lembong Berani Bilang Dollar Tembus 20 Ribu. Why?

 bukan sekadar obrolan ekonomi biasa. Ini obrolan yang bikin merinding.

Di  Podcast Unfiltered kali ini, Tom Lembong kembali duduk santai, tapi yang dibahas sama sekali nggak santai: skenario Rupiah ke Rp 20.000 dan apa yang terjadi kalau Indonesia sampai diturunkan peringkatnya oleh MSCI.

Bayangin ini:

Kita selama ini bangga karena ekonomi Indonesia dibilang besar. Nomor 16 dunia, katanya. Tapi Tom ngajak kita lihat dari kacamata yang beda. Besar itu relatif. Kalau dibagi jumlah penduduknya, GDP per kapita kita masih jauh. Kita ini negara besar yang masih miskin, kalau jujur-jujuran.

Dan dari situlah masalahnya mulai kebuka satu per satu.



1. Data kita dipertanyakan.

Bukan karena kita nggak punya data, tapi karena kredibilitasnya diragukan. Investor global itu bukan cuma lihat angka, mereka lihat apakah angkanya bisa dipercaya. Kalau kepercayaan itu retak, uang akan pergi duluan sebelum kita sempat menjelaskan.

2. Regulasi ada, implementasi minim.

Di atas kertas, semua terlihat bagus. Aturannya ada, reformnya diumumkan, jargonnya keren. Tapi di lapangan? Tom bilang, inilah penyakit lama kita: hebat di retorika, lemah di eksekusi.

3. Lalu datang ancaman MSCI.

Kalau Indonesia benar-benar diturunkan peringkatnya, itu bukan sekadar berita di running text TV. Artinya dana-dana raksasa dunia yang selama ini wajib taruh uangnya di Indonesia, akan wajib keluar. Bukan karena mereka benci Indonesia, tapi karena aturan mereka mengharuskan begitu. Efek domino-nya? Rupiah tertekan, pasar obligasi goyang, dan pemerintah jadi makin sulit pinjam uang dengan bunga murah.

Di titik inilah Tom menyinggung fenomena crowding out dan krisis pasar obligasi. Ketika negara terlalu banyak menyerap uang dari pasar, swasta jadi kehabisan napas. Dan ketika pasar obligasi mulai krisis, godaan terbesar pemerintah adalah satu hal yang paling berbahaya: cetak uang.

Dia juga membantah teori konspirasi dengan tenang. Tidak ada dalang tunggal di balik semua ini. Yang ada adalah masalah struktural yang sudah lama kita tunda untuk dibereskan.

Di bagian paling personal, Tom cerita kenapa dia sampai sekarang tidak punya aset properti. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena dia memilih untuk tidak terikat pada satu narasi: bahwa kaya itu harus punya tanah dan bangunan. Baginya, kebebasan berpikir jauh lebih berharga dari sertifikat.

Dan di akhir, setelah satu jam lebih membahas hal-hal yang terasa gelap, dia justru menutup dengan optimisme. Bukan optimisme kosong. Tapi optimisme pada generasi muda Indonesia yang menurutnya jauh lebih kritis, lebih terbuka, dan lebih tidak mau dibohongi retorika.

Jadi pertanyaannya sekarang bukan lagi, "Akankah Rupiah ke Rp 20.000?"

Pertanyaannya adalah, "Apakah kita berani jujur soal masalah struktural kita, sebelum pasar yang memaksa kita untuk jujur?"

 Sumber artikel:

https://youtu.be/w3obwTq9CvQ?si=FZ3xd7Bj7NA1JSpu

Comments

Total Pageviews

Trending Topic

Testimoni Istri Pendiri Partai Demokrat Sebelum Kubu Moeldoko Konpres di Hambalang

125 Orang Tewas: Ricuh Pasca Laga Arema FC VS Persebaya

Pernikahan Kaesang & Erina | Apa Dampaknya Untuk Indonesia?

KPK Panggil Anies Baswedan

Special massage services at a barbershop in Jakarta

Progress of Jakarta MRT project

Capres 2024 Sudah "Nyata" Ada atau Masih Misteri?

Habib Kribo Bersuara Lantang Soal Pilpres & Capres 2024

Nasib Jakarta Pasca Anies Baswedan Ditentukan PLT atau Gubernur Baru Hasil Pilkada 2024?

Discover Reog Ponorogo an attractive dance in Indonesia

Real Information