Adakah Yang Lebih Penting Dari Pendidikan?
*Adakah yang Lebih Penting Dari “Pendidikan”?*
@pmsusbandono
16 Oktober 2026
"Kami tetap memilih pendidikan" (K.H. Hasan Abdullah Sahal)
Itu penggalan sambutan yang diucapkan oleh Pemimpin Pondok Modern Gontor, kala “mengingatkan” Presiden Prabowo Subianto dan Bangsa Indonesia, tentang betapa pentingnya pendidikan. Pernyataan yang pas, lugas, tegas dan “to the point”.
Keberpihakan Kyai Sahal, kepada “pendidikan”, sangat kuat. Ia disepakati juga oleh banyak pihak di seluruh dunia. Komitmen seperti itu sangat dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia.
Diakui atau tidak, aspek pendidikan di negara kita masih (jauh) dari memadai. Lihat saja pencapaian kita terutama dari sisi aspek kultural.
Coba simak informasi berikut :
Programme for International Assessment/PISA 2025 menilai skor Indonesia meningkat pada sains dan membaca, tetapi sedikit menurun pada matematika. Sayang, sebagian besar siswa Indonesia masih belum mencapai nilai minimum, sekali pun. Nyaris tidak ada siswa yang mencapai level 5 dan 6, tingkat kemampuan tinggi dalam menyelesaikan persoalan kompleks dengan penalaran logis dan strategis. (Kompas, Jumat, 11 September 2026, hal 15)
Tiba-tiba saya ingat cita-cita untuk mencapai “Indonesia Emas” pada tahun 2045. Itu hanya tinggal 19 tahun lagi. Utopis bila kualitas pendidikan masih seperti ini, sementara predikat emas terus dicanangkan.
Mengibakan, kala “World Top 20 Education Poll” di tahun 2026 menempatkan Indonesia berada di peringkat ke 67 dari 203 negara dalam sistem pendidikan global. Kita “11-12” dengan Albania (posisi 66) dan Serbia (posisi 68). Silakan dibayangkan dari jauh bagaimana kondisi negara Albania dan Serbia. Di situlah kira-kira kita berada.
Di kalangan ASEAN, membuat hati lebih “trenyuh”. Hanya bertengger di juara 4-5. Sedikit di atas Filipina, Myanmar dan Kamboja. Jangan coba-coba mencari tahu di mana Singapura, Vietnam, Malaysia dan Thailand. Sebagai tambahan, indikator penilaian peringkat meliputi tingkat partisipasi pendidikan anak usia dini, penyelesaian SD dan SMP, kelulusan SMA, serta PT. Cukup komprehensif dan integratif.
_“Education reshapes individuals by expanding their minds, building critical thinking and fostering empathy”_ (Paulo Freire – Pendidik dan filsuf dari Brazil)
Ada 3 aspek yang cukup dominan untuk mempengaruhi kualitas pendidikan. Setidaknya, menurut saya.
Pertama, kualitas dan kuantitas guru (tenaga pendidik) dan tenaga bantu pendidik. Tanpa memperhatikan nasib guru, kualitas pendidikan bisa langsung disebut _“nul puthul” (big zero)._
Sehebat apa pun, fasilitas digital yang dimiliki oleh suatu satuan pendidikan, hampir sia-sia bila tak tersedia guru yang mumpuni.
_“Computer aren’t magic, teachers are”_ (Craig R. Barrett, former CEO dari Intel Corp)
Kedua, sistem pendidikan nasional. Jangan semboyan “Ganti menteri, ganti sistem”, menjadi slogan yang terus menerus digaungkan tanpa pernah ada evaluasi serius. Anak-didik bukan “kelinci percobaan” dan “sapi perah”.
Ketiga, fasilitas dan infrastruktur. Guru dan sistem tak akan menggelinding tanpa kedua hal itu eksis.
Contoh soal, baru pertengahan tahun 2025, kita dikagetkan berita bahwa sekian belas gedung sekolah di DKI kondisinya tak layak digunakan. Bayangkan, hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi Pemda DKI, gedung sekolah banyak yang mengenaskan.
Nun jauh di NTT sana, ada kejadian “aneh tapi nyata”. SD di Mboeng, Kabupaten Manggarai Timur, yang kondisi bangunannya jauh dari pantas, mendapat kiriman “hadiah” _smart_ TV. Sia-sia, karena sekolah belum dialiri listrik. (DetikKalimantan, Selasa, 8 September 2026.)
_"Mismatch"_ ini disebabkan karena program tak dipikirkan, direncanakan dan dieksekusi dengan saksama. Hal-hal yang “menggelikan” masih terjadi. Semestinya mendapat perhatian utama dan pertama.
Sulit dibantah, Indonesia tanpa pendidikan yang bermakna mustahil masuk era “Indonesia Emas 2045”. Jangan mimpi di siang hari bolong, bila tanpa usaha pengembangan SDM untuk membangun akhlak, kultur dan kompetensi, Bangsa Indonesia mampu bertransformasi untuk mengubah manusia, untuk kemudian dunia.
_“Education does not change the world. Education changes people. People change the world”_ (Paulo Freire)

Comments
Post a Comment