Krisis Minyak Arab Saudi. Kartu As Yang Kini Terbakar
Arab Saudi sebagai raja minyak kini sedang krisis dan sangat mengkhawatirkan.
SAUDI DIHAJAR DARI DUA SISI: KETIKA JALUR NAFAS 1.200 KM ITU PADAM
Selama puluhan tahun, Arab Saudi punya kartu As. Jika Selat Hormuz memanas, mereka masih punya Jalan Tol Minyak — Pipa Timur-Barat sepanjang 1.200 kilometer yang membawa minyak dari ladang di timur langsung ke Laut Merah, tanpa perlu lewat Hormuz.
Kamis pagi, 10 September 2026, kartu As itu terbakar.
Beberapa drone kamikaze yang diduga diluncurkan dari Irak menghantam jalur vital itu di dua titik paling tidak terduga: wilayah Riyadh dan Madinah. Kementerian Energi Saudi sendiri yang mengkonfirmasi — serangan itu melukai sejumlah orang dan memaksa tim darurat turun mengamankan jalur pipa.
Jumatnya, keputusan pahit diambil: Pipa Timur-Barat ditutup total sebagai langkah pencegahan.
Ini bukan sekadar pipa bocor. Ini adalah pukulan telak di tengah perang AS-Iran yang masih membara.
Bayangkan angkanya: dalam beberapa bulan terakhir pipa ini mengalirkan 4 hingga 5 juta barel per hari. Itu setara 4% sampai 5% pasokan minyak dunia. Dan sekarang, 0 barel.
Efek domino-nya instan.
Dunia yang sudah cemas karena Selat Hormuz lumpuh, kini kehilangan rute alternatifnya. Pasar panik. Pada Minggu, harga minyak dunia langsung melonjak — WTI naik 2,8% ke US$ 102,87 dan Brent melesat 3,1% ke US$ 107,87 per barel.
Saudi kini terjepit. Di utara, drone dari Irak. Di selatan, Houthi menguasai Laut Merah. Di timur, Selat Hormuz yang mencekik. Kerajaan eksportir minyak terbesar di dunia itu tiba-tiba kesulitan mengekspor minyaknya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menyerang. Tapi: berapa lama Saudi bisa bertahan dengan jalur napasnya yang tertutup?
Arab Saudi sepertinya tidak bisa mengandalkan Presiden Donald Trump atau Amerika sebagai pelindung. Tragedi krisis minyak ini semua bermula dari serangan AS terhadap Iran, yang dilakukan Trump bersama Benjamin Netanyahu, PM Israel yang ketakutan terhadap kemampuan dan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Sumber berita: Bloomberg, Reuters dan CNN.

Comments
Post a Comment