Dasa Guna Diri. Cermin Sebelum Memimpin Orang Lain
Di era demokrasi langsung setiap orang bisa mencalonkan diri jadi pemimpin publik seperti jabatan presiden, kepala desa, gubernur, bupati atau bahkan ketua Ormas, komunitas dan sebagainya, adalah sangat penting untuk melihat refleksi diri seutuhnya di cermin. Nilai diri dengan tulus sambil memutuskan untuk membenahi diri sendiri.
Sebelum berani memimpin, ingat filosofi Dasa Guna Diri sebagai cermin sebelum memimpin orang lain. Ini adalah filosofi Bali yang relevan hingga kini dan nanti.
DASA GUNA DIRI - Cermin Pemimpin Sebelum Memimpin Orang Lain.
Di Bali, ada pepatah lama sebelum seseorang diangkat jadi pemimpin. Orang tua-tua akan berbisik, "Cek malu Dasa Guna Dirine..."
Cek dulu sepuluh kekuatan yang ada di dalam dirinya. Karena di Bali, pemimpin itu bukan soal siapa paling keras suaranya, tapi siapa paling jernih hatinya.
Dasa artinya sepuluh. Guna artinya kekuatan. Diri artinya diri sendiri. Jadi 10 kekuatan itu tidak dicari di luar, tapi digali di dalam.
Bayangkan ini:
1. SATYA - Jujur.
Pemimpin itu seperti cermin. Kalau cerminnya retak karena kebohongan, semua yang melihat akan terlihat bengkok. Satya membuat rakyat percaya tanpa perlu diawasi.
2. TAPA - Tahan Uji.
Kepemimpinan itu panas. Seperti emas yang harus dibakar untuk tahu aslinya. Tapa adalah kemampuan menahan nafsu saat punya kuasa, menahan amarah saat dihina, dan menahan godaan saat ada uang di depan mata.
3. DAYA - Welas Asih.
Pemimpin tanpa Daya hanya jadi penguasa. Tapi pemimpin dengan Daya akan melihat warganya bukan sebagai angka, tapi sebagai keluarga. Dia tidak hanya memerintah, dia merangkul.
4. DANA - Suka Memberi.
Tangan pemimpin itu harus di atas, bukan di bawah. Memberi waktu, memberi telinga untuk mendengar, memberi solusi. Orang pelit tidak akan pernah bisa memimpin, karena memimpin adalah seni memberi tanpa menghitung.
5. KSAMA - Pemaaf & Sabar.
Satu desa isinya seribu kepala, seribu mulut. Kalau pemimpin pendendam, desa itu akan terbakar oleh api kecil. Ksama adalah air yang memadamkan api pertengkaran.
6. SANTO - Hati yang Puas.
Pemimpin yang hatinya tidak pernah puas akan selalu merasa kurang. Kurang dihormati, kurang kaya, kurang dipuji. Santo adalah rasa cukup. Dari rasa cukup lahir ketenangan, dari ketenangan lahir kebijaksanaan.
7. ALOBHA - Tidak Serakah.
Ini penyakit pemimpin zaman ini. Serakah jabatan, serakah proyek. Alobha mengingatkan: ambil secukupnya, sisakan untuk generasi setelahmu. Tanah pura bukan untuk dijual.
8. AMOHA - Pikiran Jernih.
Saat semua orang panik, pemimpin harus jernih. Amoha adalah tidak mabuk. Tidak mabuk kekuasaan, tidak mabuk pujian, tidak bingung oleh bisikan. Jernih seperti air danau di pagi hari.
9. DHRITI - Teguh Pendirian.
Angin akan selalu datang. Kritik, fitnah, godaan akan datang. Dhriti adalah jangkar. Sekali benar, tetap benar. Tidak goyah karena takut tidak disukai.
10. ARJAWA - Tulus Tidak Licik.
Yang terakhir dan paling mahal. Tidak ada topeng. Apa yang di depan sama dengan yang di belakang. Ketulusan tidak bisa dipura-pura. Rakyat mungkin bisa dibohongi setahun, tapi tidak selamanya.
Akhirnya, para tetua Bali akan berkata:
"Kalau 10 ini belum ada di dalam dirinya, jangan beri dia singgasana. Karena singgasana akan membuatnya jatuh. Tapi kalau 10 ini sudah ada, sekalipun dia duduk di balai bambu sederhana, wibawanya akan terlihat sampai ke ujung desa."
Itulah Dasa Guna Diri. Bukan ajaran untuk menjadi dewa. Tapi ajaran untuk menjadi manusia yang pantas memimpin manusia lainnya.
Dimulai dari memimpin diri sendiri dulu.
Sudahkah kita cek Dasa Guna Diri kita hari ini?


Comments
Post a Comment