Cara Memilih Durian Gaya Bung Karno. Kisah Durian Sukarno
Bung Karno itu kalau soal durian bukan sekadar suka — dia penggila. Kalau artikel Okezone yang kamu sebut itu lebih membahas daftar kesukaan umumnya, ada 3 kisah durian yang lebih liar, lebih personal, dan tidak ada di artikel itu.
1. Durian Hepe - Durian Berasa Pahit Kesukaan Istana Batu Tulis
Semua orang mengira Soekarno suka durian yang manis legit. Justru tidak.
Jenis yang paling dia cari adalah durian hepe. Dr. Reza Tirtawinata, pemilik Kebun Wa'Reza di Bogor, menyebut buah yang dikenal sebagai raja buah itu memang jadi salah satu buah yang paling disukai Soekarno, dan jenis yang paling disukai adalah durian hepe.
Karena itu orang kerap menyebutnya durian Bung Karno.
Hepe artinya biji kempis. Cita rasanya bukan manis, tapi dominan pahit. Warna daging buah putih dan tebal. Bung Karno kerap menikmatinya saat istirahat di Istana Batutulis, Bogor. Konon setelah beberapa menit, tenggorokan hangat dan perut panas — sensasi yang hanya dipahami penikmat durian tulen.
Bayangkan: di tengah rapat-rapat berat mempertahankan Republik muda, Presiden meminta ajudan membawakan durian putih pucat yang pahit itu. Bukan durian pesta, tapi durian perenungan.
2. Pelajaran Memilih Durian dan Lahirnya Istilah "Durian Kontra-Revolusi"
Kisah paling kocak dicatat oleh putra sulungnya sendiri, Guntur Soekarnoputra, di buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku (1977).
Guntur menulis bagaimana ayahnya mengajarkan dia untuk memilih durian. Dengan gaya orator di podium, Bung Karno memberi teori:
"Jadi, Bapak ulangi! Satu, periksa tangkainya! Dua, lihat duri-durinya! Tiga, cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik, itu tandanya duriannya jempolan!"
Guntur mengiyakan. Durian pilihan sang proklamator pun dibuka dengan penuh harap. Dan...
Busuk.
Guntur protes: “Yaaa, Pak… Kok, duriannya busuk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?”
Bung Karno tidak kehilangan muka. Dia berkilah dengan kalimat yang hanya bisa keluar dari mulut seorang politisi ulung:
“Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih durian! Uh … Ini durian mungkin jenis baru.”
“Emangnya jenis apa, Pak?”
“Jenis durian … kontra revolusi!”
Presiden pertama Indonesia itu hobi berat makan durian, dan buah berduri ini mewarnai berbagai sisi kehidupannya, mulai dari urusan pribadi hingga politik. Bahkan durian busuk pun diubahnya jadi bahan pidato.
3. Warisan di Bengkulu - Pohon Durian yang Ditanam Dari Pengasingan
Ini kisah yang paling romantis.
Tahun 1938, saat diasingkan Belanda di Bengkulu, Soekarno menyewa rumah milik seorang Tionghoa di Kampung Anggut Atas. Uang pas-pasan, tapi kalau sudah musim durian, ia bisa memborong satu gerobak durian hanya dengan satu ringgit.
Setiap habis makan, ia tidak membuang bijinya sembarangan. Ia tancapkan biji-biji itu di tanah sekitar Bengkulu. Dari biji-biji itu tumbuh pohon yang berbuah dengan karakter induknya: legit, manis, dan kering.
Masyarakat Bengkulu sampai sekarang masih menyebutnya “Durian Soekarno”.
Kisah ini dikonfirmasi pakar buah tropis IPB, Dr. Reza Tirtawinata, bahwa biji-biji dari pohon yang tumbuh di Bengkulu dan dirujuk sebagai durian Sukarno itu kemudian ditanam sebagai koleksi di Kebun Buah Mekarsari.
Jadi, kalau kamu ke Bengkulu dan ditawari durian Soekarno, kamu sedang makan warisan langsung dari tangan seorang bapak bangsa yang sedang rindu rumah di pengasingan — yang menanam harapan, bukan cuma biji.
Bagi Soekarno, durian bukan sekadar buah. Ia adalah cara memilih, cara tertawa saat salah pilih, dan cara meninggalkan jejak.
Di era digital ini, durian semakin digemari dan menjadi bagian acara wisata kuliner.

Comments
Post a Comment