Followers

Indonesia Milik Kita?

 *Indonesia Milik Kita(2)*

@pmsusbandono

18 Agustus 2026


Lebih baik di sini

Rumah kita sendiri

Segala nikmat dan anugerah Yang huu Kuasa

Semuanya ada di sini

Rumah kita

Rumah kita”

(Lagu : “Rumah Kita” – God Bless)


Kemarin, saya ikut hadir dalam upacara bendera memperingati kemerdekaan Republik Indonesia.  Lokasinya di dekat rumah kami.  Tak semegah, semeriah dan semewah di Istana Merdeka.   Tidak ada Drum Band, tak ada pasukan kuda, tak juga ada orkes tiup yang mengagumkan.  Namun, penghayatan dan semangat merdeka dari para peserta upacara, tak kalah dari yang digelar di sana.

Rumah Kita. Indonesia Kita? 


Seusai upacara, ada acara pesta rakyat.  Makanan tradisional disediakan, tarian digelar, pelbagai permainan dilombakan, tak lupa alunan musik dari pagelaran band lokal dimainkan.  Dari situlah saya mendengar kembali lagu “Rumah Kita” yang membuat _“nggregel”_ (merinding) dada saya. 


“Rumah Kita” ngetop sekira 30 tahun lampau.  Digubah oleh gitaris ternama, Ian Antono, dan musikus handal, Theodore KS, dirilis God Bless dalam album yang meledak,  “Semut Hitam”.


Dalam suasana perayaan ulang tahun Kemerdekaan, “Rumah Kita”  mengingatkan akan kebanggaan terhadap negara Indonesia.  Sekaligus menumbuhkan cinta  Indonesia, dengan cara yang sederhana.  Dan itu mempertebal perasaan saya bahwa Indonesia milik saya, milik kita, bukan hanya milik dia dan mereka.


Saya merasa berhutang budi kepada God  Bless.  Entah mengapa, setiap tanggal 17 Agustus, ingatan saya lari ke “Rumah Kita”.  Dalam hati, saya mendendangkan lagunya, melafalkan liriknya, membayangkan pesannya.


“Rumah Kita” mengisyaratkan bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka.  Masyarakatnya banyak yang belum  sejahtera. Korupsi masih menyeruak di mana-mana, oknum pejabat ugal-ugalan mengelolanya.  Belum pas disebut  masyarakat madani  _(“civil society”)._  Belum juga bak swarga loka, yang  adil makmur, tata tentrem, kerta raharja.  Biar bagaimana pun, biar apa pun,  tapi Indonesia tetap milik kita.


“Hanya alang-alang pagar rumah kita

Tanpa anyelir tanpa melati

Hanya bunga bakung tumbuh di halaman

Namun semua itu punya kita

Memang semua itu milik kita”


Dengan kalimat berbeda, Kompas cetak, Selasa, 18 Agustus 2026, keluar dengan judul besar di halaman pertama, “Bukan Tamu di Negeri Ini”.  Sedikit berbeda penekanan, tapi pesannya  sama.  Ini negara kita, kita bukan tamu, kita tuan rumah, bukan tetangga atau orang lain.  Tak pantas pula bila kita disuruh pergi hanya karena berbeda pendapat.  

Tak heran bila 18 “Opini” yang disajikan di dalamnya memiliki nada yang serupa.  

Pesannya kira-kira seperti ini : “Karena ini negara milik kita, dan kita bukan tamu, maka kita, seluruh rakyat Indonesia, harus _“ngopeni”_  negara ini.  Harus telaten merawatnya.  Harus tak kenal lelah mengingatkan siapa saja, termasuk pemerintah, bila dianggap menyimpang dari pesan kemerdekaan”.

Tak heran kalau teman saya, Yanuar Nugroho, dosen STF Driyarkara, menulis opini dengan judul “Merawat Tatanan Republik” (hal. 13).  Dengan kritis, diantaranya dia mengomentari adanya “konflik kepentingan” yang sedang marak terjadi di negara kita tercinta.  

“Tak perlu naif , konflik kepentingan itu tak terhindarkan dalam politik.  Setiap pejabat, partai dan kelompok punya kepentingan.  Republik sehat bukan karena tanpa kepentingan, tapi mampu menyatakan, membatasi dan mengoreksi konflik kepentingan.  Itu mengapa Montesquieu bilang : kekuasaan hanya bisa di batasi oleh kekuasaan lain.” (le pouvoir arrEte le pouvoire).


Justru karena mencintai negara ini, maka kita harus terus-menerus memberikan perhatian dan mengingatkan “roda pedati yang sedang  berputar”.  


Tak hanya memilih sekali dan mengulanginya 5 tahun kemudian.  Rakyat mesti sungguh hadir dalam cara kekuasaan dibentuk, dijalankan, dibatasi dan dipertanggungjawabkan (Yanuar Nugroho, Kompas, 18 Agustus 2026).  Sebaliknya, sikap apatis, _“pasrah bongkokan”,_  _“take it for granted”,_ bisa diartikan sebagai kurang bertanggung-jawab terhadap pesan dan tujuan kemerdekaan yang diproklamasikan  81 tahun lalu.

God Bless, Montesquieu dan Yanuar Nugroho tak pernah bertemu untuk sepakat bagaimana cara mengisi kemerdekaan Indonesia.  Tapi gambaran sikap mereka mirip.   

Rumah kita yang belum sempurna harus terus diisi dengan atensi, tetesan keringat dan airmata.   Seberapa pun sederhananya, ia bisa membuat  Indonesia menjadi lebih kuat dan sejahtera.  

Jangan pergi, jangan lari.  Ini rumah kita, Indonesia.

_“The Country is our home to be decorated with bits of accomplishments to commemorate its independence”._ (AVM)

“Dirgahayu Republik Indonesia

Comments

Total Pageviews

Trending Topic

Testimoni Istri Pendiri Partai Demokrat Sebelum Kubu Moeldoko Konpres di Hambalang

125 Orang Tewas: Ricuh Pasca Laga Arema FC VS Persebaya

Pernikahan Kaesang & Erina | Apa Dampaknya Untuk Indonesia?

KPK Panggil Anies Baswedan

Special massage services at a barbershop in Jakarta

Progress of Jakarta MRT project

Capres 2024 Sudah "Nyata" Ada atau Masih Misteri?

Habib Kribo Bersuara Lantang Soal Pilpres & Capres 2024

Nasib Jakarta Pasca Anies Baswedan Ditentukan PLT atau Gubernur Baru Hasil Pilkada 2024?

Discover Reog Ponorogo an attractive dance in Indonesia

Real Information