Followers

Pendidikan itu Esensial? Renungan Pak Sus

 *Pendidikan itu Esensial*

@pmsusbandono

17 Juli 2026

_“Intelligence plus character – that is the goal of true education”_ (Martin Luther King Jr)

Sedang terjadi fenomena yang absurd.  Meski selalu diteriakkan dan disepakati sebagai hal yang sangat-sangat penting, pendidikan sedang mengisahkan fakta yang centang-perentang. 

Ini ada beberapa contoh kasus.

Sebuah SDN di Jember hanya mempunyai 1 murid baru di kelas 1, di tahun ajaran baru ini.  Pihak sekolah “kebingungan” bagaimana mendidik 1 murid dalam suatu kelas yang _“oblong-oblong”._   Di sekolah itu ada 30-an murid.  Artinya,  satu kelas rata-rata hanya dihuni 6 murid.  Tambah ironis, karena jumlah guru hanya 3 orang.


Kasus serupa terjadi di Blitar.  Sistem Penerimaan Murid Baru  (SPMB) di 3 SD  tak menjaring satu pun murid.  Pihak sekolah kebingungan, bagaimana sekolah tetap bergulir meski semakin  tipis siswanya.

Fenomena “kekurangan” murid terjadi di banyak sekolah, berbagai level, negeri mau pun swasta.  Sekolah-sekolah swasta tutup “kehabisan” murid dan tak mampu lagi memutar roda pendidikan.  

Tak juga jelas apa yang sedang terjadi, sementara pemerintah daerah, apalagi pusat, terkesan tidak atau belum bereaksi secara proporsional.

Masalah kekurangan siswa tak hanya terjadi di SD.  Di level PT pun, kasus yang mirip terjadi juga.  

Prof. Stella Christie, Wamendiktisaintek, meluruskan informasi yang beredar mengenai 60.000 calon mahasiswa yang disebut tidak mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru di PTN.

Stella menjelaskan, pada 2025 ada 60.000 kuota di PTN yang tidak terisi. Dari jumlah itu, hanya 17.800 calon mahasiswa yang tidak melakukan registrasi ulang. Sementara sisanya sebanyak 42.315 kuota tetap tidak terisi. 

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260708153956-33-749192/wamen-stella-bantah-60000-calon-mahasiswa-gagal-kuliah-karena ekonomi

Mudah dipahami, mengapa belasan atau puluhan ribu calon mahasiswa baru yang sudah _“cape-cape”_ mendaftar dan ikut tes masuk, lulus, dan kemudian membatalkannya.  Mudah diduga, faktor ekonomi menjadi jawaban utama.  

Masih lagi-lagi “faktor ekonomi” menjadi biang kerok.  Sejumlah dosen berstatus Non-ASN dan ASN bersaksi di Mahkamah Konstitusi terkait gaji mereka yang sangat kecil. 

Beberapa dosen menerima gaji pokok berkisar Rp 450 ribu hingga Rp 3,3 juta per bulan.  Jauh di bawah UMR, bahkan ada yang terpaksa menjadi sopir OJOL dan bahkan  kuli bangunan. 

Saksi dari Universitas Airlangga bergelar doktor  lulusan Australia, dengan belasan tahun pengalaman mengajar,  mengungkapkan hanya menerima gaji pokok sebesar Rp 2,6 juta.

Miris membacanya.  Ketika  membayangkan bagaimana mereka berbelas tahun harus _“ketekuk ringkel”_ (banting tulang) menuntut ilmu dan kemudian  mendapatkan gaji tak lebih dari honor ART.  Tak usah ditanya bagaimana nasib ribuan  guru honorer.

Fakta  di atas hanya sekelumit contoh dari banyak kisah pilu yang dialami dunia pendidikan di Indonesia.  Jangan harap bangsa Indonesia mampu memasuki masa emas yang, konon, dicanangkan terjadi di tahun 2045.  Sementara sektor pendidikan kondisinya mengenaskan dan mencemaskan.  

Padahal, pengetahuan adalah kekuatan dan pendidikan adalah dasar dari segala dasar kemajuan.  Omong kosong dan bualan belaka ketika kita bicara mengenai Indonesia maju, bila pendidikan dinomor-sekiankan. 

_“Knowledge is power.  Education in the premise of progress,  in every family, in every society, in every nation”_ (Kofi Annan)


Martin Luther King Jr., jauh hari berpendapat bahwa pendidikan adalah menanamkan  kepandaian, karakter, adab dan akhlak.  Semuanya harus tumbuh dalam jiwa suatu bangsa dalam rupa budaya, dan mempunyai cita-cita menjadi negara yang  :

_"Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo, murah kang sarwo tinuku, subur kang sarwo tinandur"_ (semboyan klasik Jawa yang berasal dari tradisi lisan masyarakat Nusantara) 

(Negara kaya dan rakyatnya makmur.  Suasana masyarakat yang aman, tertib, damai, dan tenteram.  Harga-harga  terjangkau dan terbeli.  Segala jenis tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panen yang melimpah.)

Sekali lagi, kuncinya adalah “pendidikan, pendidikan dan pendidikan”, karena hanya dengan itulah, kita mampu mengubah dunia.


_“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”_ (Nelson Mandela)

Comments

Total Pageviews

Trending Topic

Testimoni Istri Pendiri Partai Demokrat Sebelum Kubu Moeldoko Konpres di Hambalang

125 Orang Tewas: Ricuh Pasca Laga Arema FC VS Persebaya

Pernikahan Kaesang & Erina | Apa Dampaknya Untuk Indonesia?

KPK Panggil Anies Baswedan

Special massage services at a barbershop in Jakarta

Progress of Jakarta MRT project

Capres 2024 Sudah "Nyata" Ada atau Masih Misteri?

Habib Kribo Bersuara Lantang Soal Pilpres & Capres 2024

Nasib Jakarta Pasca Anies Baswedan Ditentukan PLT atau Gubernur Baru Hasil Pilkada 2024?

Discover Reog Ponorogo an attractive dance in Indonesia

Real Information