Jangan Terkecoh "Efek Benges"
*Jangan Terkecoh “Efek _Benges”_*
@pmsusbandono
30 Juni 2026.
_“Benges”_ adalah kosa-kata Bahasa Jawa. Padan katanya adalah “lipstik”, “gincu” atau “pemerah bibir”. Dalam Bahasa Inggris, _“lipstick”_.
Akhir-akhir ini, kata “lipstik” menjadi viral. Lantaran adanya gejala _“lipstick effet”,_ atau “efek lipstik”.
Ada secuil pengalaman tentang “efek lipstik” yang saya alami beberapa pekan lalu.
Di suatu hari Minggu siang, saya terdampar di Plaza Senayan. Menunggu tak sabar cucu yang datang sedikit terlambat.
Plaza Senayan sedang penuh pengunjung, sulit mencari tempat parkir. Antrean penumpang taxi pun tak pernah berhenti. Silih berganti, datang dan pergi. Hampir semua restoran _“fully booked”._ Beberapa, bahkan terlihat deretan calon pengunjung yang berbaris menunggu giliran di depan pintu kafĂ©.
Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin ekonomi yang dikatakan sedang tidak baik-baik saja, tapi mal sebesar itu penuh sesak.
Iseng-iseng, sambil duduk di depan _lift_ kaca lantai 2, saya melakukan survei _“abal-abal”._ Mengamati grup pengunjung yang lewat di depan saya duduk.
Hasilnya adalah, dari 20 grup pengunjung, hanya 2 grup yang membawa tas belanja. Sisanya, melenggang tanpa belanjaan. Artinya, hanya ada 10% pengunjung yang berbelanja, selain makanan. Tiap grup terdiri dari minimal 1 pengunjung.
Inilah yang disebut sebagai _“lipstick effect”._ Fenomena ekonomi-sosial yang ganjil tapi nyata.
Sewaktu kondisi ekonomi lagi sulit, saat mayoritas tak mampu membeli barang mahal atau bermerek, mereka tetap “memanjakan” diri dengan membeli barang-barang yang relatif (jauh) lebih murah. Kebutuhan akan barang mahal menjadi nomer dua, tiga, atau bahkan sepuluh. Yang penting “hepi-hepi”.
Contoh paling gampang adalah membeli gincu. Kemudian, fenomena ini disebut _“lipstick effect”_.
Dompet lagi tipis, tapi tetap ingin terlihat keren, merasa ganteng atau cantik dan bergaya oke.
Barang mewah yang dijual di Plaza Senayan tak tergapai, _“ngopi”_ saja di kafĂ© yang terjangkau. _“Mood”_ tetap naik tanpa harus menambah utang atau menggesek kartu-kredit. Gengsi naik tanpa bikin bangkrut.
Gejala ini ditemukan oleh Leonard Lauder dari "Estée Lauder" saat resesi 2001. Anehnya, pasar lipstik justru meningkat 11%, padahal ekonomi sedang kembang-kempis.
Justru ketika pandemi Covid tahun 2020-2022, penjualan alat kecantikan malah terdongkrak, sementara penjualan mobil dan properti anjlok.
“Efek lipstik” tidak hanya mendongkrak lipstik di saat resesi tapi juga meluas ke alat-alat pemantas diri lainnya, makanan kelas menengah ke bawah, perlengkapan _”gadget”,_ kopi, teh dan perangkat digital kelas menengah.
Tak aneh kalau kedai makanan kecil menjamur , gerobak gorengan laris-manis, dan tahu bulat semakin membisingkan kuping di gang-gang pinggir kota. Ini sering disebut sebagai _“affordable luxury items”._
Jangan girang dulu kala melihat mini-market atau bahkan mal penuh-sesak saat ekonomi sedang susah. Itu tidak selalu berarti ekonomi sedang beranjak naik, tapi sering terkacau dengan “efek lipstik” yang mengelabui seolah-olah keadaan sudah baik-baik saja.
Fenomena “efek lipstik” mengajarkan bahwa apa yang terlihat di permukaan, sering hanya merupakan gunung-es belaka. Selami lebih dalam agar diketahui apa yang senyatanya terjadi.
_“Appearances are often deceptive. Look beneath the surface to find the truth”_ (AVM)
PM Susbandono alias Pak Sus adalah seorang penulis best seller, pembicara di berbagai seminar dan narasumber di radio.

Comments
Post a Comment