Followers

Sikap Pemimpin Sejati Pada Kritik Mahasiswa dan Masyarakat Seperti Apa?

 Seorang presiden atau pejabat publik sejatinya tidak hanya diuji saat keadaan tenang, melainkan justru ketika suara-suara sumbang mulai meninggi. Kritik—baik yang datang dari mahasiswa di jalanan maupun dari masyarakat di media sosial—adalah cermin. Kadang cermin itu retak, kadang buram, kadang memantulkan wajah yang tidak ingin kita lihat. Tapi tetap saja, ia adalah cermin.

 

Ilustrasi demonstrasi mahasiswa

Mahasiswa yang turun ke jalan bukan sekadar kerumunan dengan spanduk dan pengeras suara. Di sana ada kegelisahan, ada idealisme, ada keberanian untuk bertanya: 

Apakah arah bangsa ini sudah benar?”

Seorang pemimpin yang matang tidak melihat itu sebagai ancaman, melainkan sebagai denyut nadi demokrasi. Ia tidak buru-buru defensif, apalagi represif. Ia mendengar. Ia merespon dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

 

Begitu pula kritik di media sosial. Di era digital, setiap orang punya mikrofon. Kadang suaranya jernih dan argumentatif, kadang emosional dan berlebihan. Namun seorang pejabat publik harus mampu membedakan antara serangan pribadi dan kritik substansial. Ia tidak perlu terpancing oleh nada, tetapi fokus pada isi. Sebab di antara ribuan komentar, sering tersembunyi satu atau dua kebenaran yang penting.

 Merespon kritik bukan berarti selalu mengalah. Bukan pula berarti harus selalu membenarkan diri. Merespon kritik berarti membuka ruang dialog. Mengakui jika ada kekeliruan. Menjelaskan jika ada kesalahpahaman. Dan memperbaiki jika memang ada kebijakan yang keliru.

 Pemimpin yang kuat bukanlah yang kebal kritik, melainkan yang tahan uji. Ia tidak membungkam suara berbeda, karena ia tahu bahwa kekuasaan tanpa kontrol akan mudah tergelincir. Ia tidak alergi pada demonstrasi, karena ia paham bahwa aspirasi yang disalurkan secara terbuka justru lebih sehat daripada yang dipendam diam-diam.

 Dalam sejarah bangsa-bangsa, banyak pemimpin jatuh bukan karena kritiknya terlalu keras, tetapi karena telinganya terlalu tertutup. Dan sebaliknya, banyak pemimpin dikenang bukan karena tak pernah salah, melainkan karena berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

 Pada akhirnya, kritik adalah bagian dari kontrak moral antara rakyat dan pemimpinnya. Rakyat memberi mandat, pemimpin memberi pertanggungjawaban. Jika keduanya saling menghormati—yang satu menyampaikan dengan tanggung jawab, yang lain merespon dengan kebijaksanaan—maka demokrasi tidak hanya hidup, tetapi tumbuh dewasa.

 Karena kekuasaan sejati bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, melainkan siapa yang paling kuat menahan diri untuk tetap mendengar.

Comments

Total Pageviews

Trending Topic

Testimoni Istri Pendiri Partai Demokrat Sebelum Kubu Moeldoko Konpres di Hambalang

125 Orang Tewas: Ricuh Pasca Laga Arema FC VS Persebaya

Pernikahan Kaesang & Erina | Apa Dampaknya Untuk Indonesia?

KPK Panggil Anies Baswedan

Special massage services at a barbershop in Jakarta

Progress of Jakarta MRT project

Capres 2024 Sudah "Nyata" Ada atau Masih Misteri?

Habib Kribo Bersuara Lantang Soal Pilpres & Capres 2024

Nasib Jakarta Pasca Anies Baswedan Ditentukan PLT atau Gubernur Baru Hasil Pilkada 2024?

Discover Reog Ponorogo an attractive dance in Indonesia

Real Information