Sikap Pemimpin Sejati Pada Kritik Mahasiswa dan Masyarakat Seperti Apa?
Seorang presiden atau pejabat publik sejatinya tidak hanya diuji saat keadaan tenang, melainkan justru ketika suara-suara sumbang mulai meninggi. Kritik—baik yang datang dari mahasiswa di jalanan maupun dari masyarakat di media sosial—adalah cermin. Kadang cermin itu retak, kadang buram, kadang memantulkan wajah yang tidak ingin kita lihat. Tapi tetap saja, ia adalah cermin.

Ilustrasi demonstrasi mahasiswa
Mahasiswa yang turun ke jalan bukan sekadar kerumunan dengan spanduk dan pengeras suara. Di sana ada kegelisahan, ada idealisme, ada keberanian untuk bertanya:
Apakah arah bangsa ini sudah benar?”
Seorang
pemimpin yang matang tidak melihat itu sebagai ancaman, melainkan sebagai
denyut nadi demokrasi. Ia tidak buru-buru defensif, apalagi represif. Ia
mendengar. Ia merespon dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Begitu pula kritik di media sosial. Di era digital, setiap
orang punya mikrofon. Kadang suaranya jernih dan argumentatif, kadang emosional
dan berlebihan. Namun seorang pejabat publik harus mampu membedakan antara
serangan pribadi dan kritik substansial. Ia tidak perlu terpancing oleh nada,
tetapi fokus pada isi. Sebab di antara ribuan komentar, sering tersembunyi satu
atau dua kebenaran yang penting.
Comments
Post a Comment