Merdeka Atau Nasi
Merdeka atau Nasi
@pmsusbandono
17 Agustus 2025
Dungkul adalah tetangga kami. Nama panggilan yang membuatnya lebih beken. Pria paruh baya yang sering nongkrong di pos jaga ujung gang untuk membunuh waktunya.
Nasi goreng
Sekolah hanya sampai kelas 2 SMP. Konon, dia putus sekolah karena tak ada biaya. Bapaknya meninggal dunia, sekian tahun lampau. Padahal, katanya, dulu cukup pandai. Melihat cara berpikirnya, saya setuju cerita itu.
Tapi bukan masa lampau yang ingin saya tulis. Kehidupan kini lebih menarik untuk disimak. Lebih-lebih karena kita sedang merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke 80.
Topik pertama, soal kerjaan Dungkul sehari-hari. Para tetangga kadang menyuruhnya kerja jam-jaman. Ngangkut puing, kenek tukang, mengantar barang, bersih-bersih kebun, dan masih beberapa lagi.
Rata-rata, setiap minggu Dungkul bekerja 1-2 hari, masing-masing 1-3 jam. Aman, dia sudah tergolong “bukan pengangguran” versi laporan pemerintah.
Kedua, Dungkul tidak tergolong “orang miskin”, versi BPS. Upah yang diterima setiap kerja sebesar seratus ribu rupiah. “Luar biasa”, Dungkul bukan golongan miskin lagi, meski keadaannya jauh dari cukup.
Untung, isterinya bekerja sebagai _“cleaning service”_ di sebuah kantor di bilangan Gatot Subroto. Untuk membayar uang sekolah dan jajan 3 anak laki-lakinya. Saya tak mau terus menghitung aliran dana di keluarga Dungkul. Takut tak bakalan klop.
Dua malam lalu, Dungkul main ke rumah. Dia membawa ikan mas cukup besar. Mungkin sekira 1 kilogram. Hasil mancing di kolam sebelah kampung. Saya terima dengan senang hati.
Setelah beres transaksi, dia mengeluh. Kepala bagian belakang sakit dan terasa berat. Saya ajak masuk ke rumah. Saya ukur tensinya. Hasilnya membuat saya terperanjat, 158/112.
Pengakuannya, dia belum makan sejak siang. Sudah dapat diduga apa alasannya.
Saya setengah memaksa agar dia ke Puskesmas. Tapi Dungkul ogah. Dia takut dokter.
Entah benar atau tidak, saya beri dia pil penurun tensi yang saya miliki. Saya pikir, daripada sama sekali tak diobati. Sebelumnya dia sudah minum parasetamol 500 mg, meski tak juga hilang sakitnya. Saya suruh minum di depan saya, kemudian, dia pulang.
“Mau istirahat”, katanya.
Moga-moga sebelum tidur, dia sempat makan untuk pengisi perutnya.
Tadi pagi, Dungkul sudah senyum-senyum lewat depan rumah saya. Pakaiannya agak necis, tak seperti biasanya. Saya setengah menggodanya.
“Mau ikut upacara?”
Wajahnya langsung berubah masam. Dia menggeleng berkali-kali. Setelah duduk sambil ngobrol sebentar, tertangkap juga maksudnya. Sudah seminggu tak ada “proyek” (demikian dia biasa menyebut untuk kerja serabutannya). Saya menangkap maksudnya.
Dungkul “dianggap” bukan pengangguran dan bukan pula orang miskin. Tapi menggunakan standar apa pun, disaksikan dengan mata, telinga dan hati, cara hidup seperti itu bukan layak disebut manusia Indonesia yang merdeka.
Angka-angka yang disampaikan Bapak Presiden di depan DPR dan ditulis panjang-lebar di salah satu koran terbesar ibukota tentang keberhasilan pembangunan selama 10 bulan ini, tak ada sangkut-pautnya dengan Dungkul. Seolah lepas sama sekali.
Pidatonya heroik, angka-angkanya gemebyar, tapi tak juga mampu membuat Dungkul tersenyum kala diajak ikut upacara HUT Kemerdekaan. Harap dicatat, teman senasib Dungkul menurut Bank Dunia mencapai 194 juta jiwa.
Buat Dungkul dan teman-teman senasib, alternatif “merdeka” bukan lagi “mati”, tapi “nasi”, alias kehidupan yang layak. Sandang, pangan dan papan, plus _“gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja”._
Sangat sulit menghubungkan antara pidato Bapak Presiden dengan kisah tentang Dungkul. Tapi Surat Sirakh 10:1 dan 3, mungkin dapat dipakai untuk mengkaitkan agar didapat relevansinya. Kalimat yang penuh metafora dan implisit, dengan sejuta tafsiran yang dapat ditarik darinya.
“Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya,
dan pemerintahan orang arif adalah teratur.” (ayat 1)
“Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah
kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya” (ayat 2)
Comments
Post a Comment