Alasan Presiden Jokowi Pilih Budi Gunadi Sadikin Sebagai Menkes Menurut Perspektif PM Susbandono
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
-
Sepertinya banyak yang terkejut dengan pilihan Presiden Joko Widodo ketika memilih Budi Gunadi Sadikin alias BGS sebagai Menteri Kesehatan saat melakukan reshuffle kabinet. Padahal BGS bukan seorang dokter. Inilah keunikannya yang mungkin menarik perhatian PM Susbandono, seorang penulis ternama yang juga nara sumber yang sering memberikan pencerahan di berbagai seminar, workshop dan radio.
PM Susbandono, penulis, pembicara dan nara sumber seminar & radio terkenal (perspektifbaru.com)
Dengan keahlian serta pengalaman panjang PM Susbandono yang akrab dengan sapaan Pak Sus ini selalu menulis tentang hal-hal menarik terkait kepemimpinan, human resources dan aspek lain tentang kehidupan dengan perspektif yang sangat kekinian.
Demikian pula artikel yang ditulis Pak Sus berjudul Budi Gunadi Sadikin. Meskipun judulnya pendek, saya yakin pasti ada sesuatu yang bisa disorot dan patut menjadi renungan di awal 2021 yang penuh tantangan ini.
*Budi Gunadi Sadikin**/
@pmsusbandono
1 Januari 2021
_*/Teriring ucapan “Selamat tahun Baru” bagi sahabat-sahabat
praktisi, pegiat dan pengamat Manajemen Sumber Daya Manusia Indonesia._
Hari-hari terakhir sebelum tahun 2020 berakhir, beberapa
berita mengguncang dunia perpolitikan dalam negeri.Salah satunya adalah reshuffle Kabinet
Indonesia Maju, 2 hari menjelang Hari Natal tiba.
Di antara 6 menteri baru, penunjukan Budi Gunadi Sadikin
(BGS) sebagai Menteri Kesehatan (Menkes)paling menyita perhatian banyak orang.Menkespertama di Indonesia yang
bukan dokter.Pakem telah dibongkar, leader sudah duduk di kursinya. Insya Allah, masyarakat kesehatan Indonesia
mampu memanfaatkan peluang ini semaksimal mungkin.
Penunjukan figur non-dokter menjadi Menkes sebetulnya bukan
sesuatu yang luarbiasa.Analoginya,
sudah ditunjukkan olehAppledan Google.
Presiden Jokowi ketika memperkenalkan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan baru setelah memperkenalkan Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial di Istana Negara, Jakarta (merdeka.com)
Mulai 2tahun lampau
mereka tak lagi mensyaratkan “sarjana” untuk menjadi pegawainya.Konon,IBM juga mempunyai kebijakan serupa.Dunia mulai merobohkan sekat-sekatperbedaan, termasuk ilmu pengetahuan.
“Perusahaan beken macam Apple dan Google merekrut pegawai
yang bisa mengerjakan tugas yang diperlukan, tanpa memandang apakah yang
bersangkutan memiliki gelar sarjana atau tidak.
‘Perusahaan kami, seperti yang Anda tahu, didirikan oleh
mahasiswa yang drop-out’, ungkap CEO Apple Tim Cook”. (“Tak Perlu Jadi Sarjana
untuk Kerja di Apple dan Google”,
Kompas.com-12/04/2019).
Dengan konteks yang berbeda, sejak 20 tahun lampau, Medco Energi,
perusahaan perminyakan swasta nasional terbesar di Indonesia, membuka program Graduate Engineering Trainee tanpa melihat latar belakang pendidikandi Universitas.Star Energy, perusahaan lainnya, melakukan
hal yang sama beberapa tahun kemudian.
Insinyur dari jurusan apa pun silakan melamar.Kesesuaian values menjadi kunci utama untuk
lolos.
“Recruit character, develop competencies”.
Tak aneh, kalau kemudian Drilling Engineer handal berlatar
belakang Teknik Industri,Listrik atau
Kimia.
Itulah kisah pembelajaran masa kini, yang berangsur
berubah.Metodologi pengembangan SDM
yang disusun 5 tahun lampau sudah tak cocok dengan sikap dan kebutuhan
anak-didik, anak-buah atau anak-kandung, saat ini.
Cornel, siswa kelas 1 SMP, dengan usia sekira 12 tahun,
“tiba-tiba” mahir bermain piano, nyaris tanpa guru formal.Dentingan gawai terdengar merdu dimainkan,
berkat usahanya menonton YouTube.Bandingkan, “nasib”saya dulu,
ketika 2 kali seminggu harus bertemu guru piano privat berlama-lama dannyaris tanpa hasil.
Proses pembelajaran murid di kelas formal dan pengembangan
pegawai di ruang kerja saat ini tak sama dengan kehidupan kaum digital
immigrant.Bila para guru dan
pengelola Manajemen SDM masih menggunakan cara-cara lama, pembelajar akan
ketinggalan dibanding “anak ingusan” seperti Cornel yang menggunakan caranya
sendiri.Modalnya minat, semangat dan
niat yangkuat.Cornelberuntung karena tersedia sarana untuk menimba detil dan teknis bermain
piano melalui kemajuan teknologi yang melejit demikian pesatnya
Untung, secara bertahap masyarakat Indonesia mulai rela
menerima “cara baru” dan mengubah mindset dan sikapnya.Kisah seorang berpendidikan formal Fisika
Nuklir, berpengalaman Bisnis dan Perbankan menjadi “bos” para dokter seluruh
Indonesia menjadi pemicu untuk menyadarkan masyarakat akan mengentalnya borderless civilization.
Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berkemampuan tidak
terlalu dalam tapi luas, dibanding bidang sempit tapi jauh menukik ke dasar
lautan. Sinergi mutlak dibutuhkan,
sesuai dengan segregation of duties yang dibutuhkan.
“Spesialis mendalami hakekat dan mengembangkannya,
generalis mengelola dan memimpin prosesnya”.
Pembelajar perlu dibekali pemahaman dengan “proses
terjadinya” dan “konteks yang melatar-belakanginya”.Selanjutnya, silakan bekerja keras untuk
menggali materi yang lebih implementatif.
Ini jauh berbeda dengan pembelajaran yang dulu saya
dapatkan.Banyak materi dijejalkan,
dengan harapan, siapa tahu mampu menyelesaikan (banyak) persoalan, yang mungkin
timbul.(RP Yoh. Haryatmoko SJ, “Jalan
Baru Kepemimpinan dan Pendidikan Jawaban atas Tantangan Disrupsi-Inovatif”,
2020).
Survei sederhanayang
saya lakukan terhadap 32 Dokter kenalan menunjukkan bahwa 81% responden
berpendapat “Menkes tidak harus seorang Dokter, asal sarat dengan kompetensi
manajerial dan visioner”.Hanya 1 Dokter
(3%) yang serta-merta menolak, sedangkan sisanya (16%) berdalih “wait and
see”.Mantan Menkes, Siti Fadilah
Supari (2004-2009) dan Nafsiah Mboi (2012-2014) memberi endorsement hasil
survei dengan nada positif.
“Menkes tidak harus seorang Dokter, meski dengan
syarat-syarat yang menantang”.(Liputan6.com, 29 Desember 2020)
Fenomena BGS mengingatkan saya akan Jack Ma yang wanti-wanti berpesan agar pengembangan SDM dilakukan lebih untuk menanamkan values.SDM perlu dilengkapi dengan
kemampuan (kompetensi) “learning ability”dan “adaptability skill”yang
persisten dan konsisten.("Man
versus Machine, Vlog, Jack Ma).
Manusia zaman kini dituntut menjadi pembelajar dan mampu
menyesuaikan diri dengan tepat terhadap “dunia” yang berubah (sangat)
cepat.Itulah calon pemenangnya.
Cornel memiliki keduanyasebelum dia bolak-balik membuka gadget sambil memencet-mencet pianonya
dengan lagu yang awalnya tak jelas nadanya.Sarjana Teknik Industri atau Kimia harus banting-tulang sebelum akhirnya
menyandang predikat ahli perminyakan yang mumpuni.
Biar lebih komplet, pendapat Ma perlu dikombinasikan dengan
Gladwell.Bila ingin sukses sejati,
tanamkan nilai ”kerja keras” dan “pantang menyerah”.(“Outliers – The Story of Success, Malcolm
Gladwell, Penguin Psychology Books, New York Times Bestseller, 2008).
Itu adalah 2 dari 6 syarat yang menjadi kata kunci selain
bakat, cerdas, dukungan lingkungan dan siap untuk beruntung.
BGS baru seminggu menjabat.Meski 2 pidatonya cukup memukau, belum waktunya orang bisa menilaigebrakannya.
Cornel baru setahun asyik dengan pianonya.Belum semahir Ananda Sukarlan atau Richard
Clayderman.
Tapi, bukan itu maksud tulisan ini.
BGS dan Cornelmemberi impresi yang kuat.Mereka
mengirim pesan yang tepat.Dengan proses
pembelajaran seperti itu, keberhasilan mereka hanya masalah waktu belaka.Saya percaya itu, karena semua manusiasangat kompeten.
“Humans are extremely competence”.(“Psychology”, Margaret W. Matlin, Harcourt
College Pub., 1992)
Nah. Artikel Pak Sus bisa dikatakan begitu singkat, namun mampu memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang berbagai aspek. Kita bisa melihat makna artikel tersebut dari segi manajemen, leadership, dan sah juga dipandang dengan kaca mata politik.
Mungkin tayangan berikut ini juga bisa menjadi bahan renungan menarik di awal 2021 ini ketika Indonesia sedang menghadapi aneka tantangan dan peluang yang tersembunyi karena situasi global yang terganggu karena pandemi global gara-gara Covid-19.
Comments
Post a Comment